Manusia Berlari Mengejar Perputaran Bumi
Manusia Berlari Mengejar Perputaran Bumi

TravellerCinta.com – Kita selalu berjalan seperti reranting mahoni di setapak jalan pedesaan, lalu menggenggam seolah enggan terpisahkan. Sejenak kita saling memandang di bening mata masing-masing. Dan mengerti, musim tengah menebak arah perjalanan kita tanpa memberi tahu barang sepucuk daun, tentang rahasia yang membawa lekang-kenang peristiwa bertahun kelak. Kita tertawa, kepastian yang kita miliki hanya satu, mengikat janji jemari.

Bening air memantul di danau biru tempat kita biasa memaknai pagi. Danau yang terletak di balik reruntuh di pinggir desa itu kita namai Primavera, yang berarti musim semi dalam Bahasa Prancis. Primavera indah karena ia memberi kehangatan di setiap beningnya dan kita selalu nyaman menghela pagi di sana, sebelum matahari mengecup siang – dan kita sibuk pada diri. Kau pernah berkata, “manusia berlari mengejar perputaran bumi, sedang semakin renta usia – semakin jauh ia tertinggalkan.” Kita mengerti, kepastian tak pernah hadir sebelum kaki mulai melangkah.

Dan di sinilah kita, di hari Minggu tanpa satu pun beban tersirat, menemani kebisuan yang terlupakan. Kita hanya berdua, memandang keabadian yang tercipta oleh kenangan, lalu meresap satu persatu gulir angin yang menghembus tanpa suara. Sedang kita tahu masa kita tak lagi lama, dan bila tiba sudah – hanya ada kau dan aku yang mungkin tak membentuk kita.

Kau tersenyum, membuka arah pembicaraan dengan dua tangan menguncup di bibir bisu, sebab tak ada kata yang keluar di lidah kelu. “Aku baik-baik saja, barangkali hadirmu adalah obat,” ujarmu. Kau meletakan biolamu dan menyandarkan diri di bangku – mengecup aroma musim semi yang ranum. Aku tersenyum, “kau bisa memainkan satu lagu untukku, sebagai rasa terima kasihmu.”

Meski tak ada suara yang keluar dari mulutmu, kuyakin tawamu merekah dimanis rona. “Kau mau lagu apa, kupikir kau membawa partitur lagu ciptaanmu sendiri,” kau mengeluarkan biola dari tasmu. Aku lalu memberimu secarik kertas, “Simfoni,” ujarku, “kau boleh memainkannya, lagu ini untukmu,” aku tersenyum memandangmu melihat not-not angka yang kutulis semalam tadi. “Lagu ini pasti cocok buatmu, kau mau menuliskan liriknya?”

Kau mengangguk dan tersenyum, “tentu saja.”

Begitulah pertemuan kita hanya terjadi seminggu sekali, di pagi belia hingga malam muda – kita saling bicara mengenai kerinduan masing-masing, tanpa tahu kapan tertuntas abadi. Janji di jemari, cukup untuk menghangatkan musim-musim.

Kita tahu kehadiran demi kehadiran melebar pagut kerinduan, dan terbiasalah, sebelum genap pergantian. Di pertengahan tahun, saat angin menebarkan aroma wangi bunga, di stasiun di seberang desa, kau meminta kembali pelukku dan enggan merelakan kenangan yang telah terjalin, aku bisa berjanji – tanpa tahu pasti, aku akan kembali membentuk satu keyakinan, teruntukmu kuserahkan separuh perjalanan. Dan saat itu, peluk melepas satu musim kita dan mengembalikan kehadiranmu dalam benak.

Teruntuk saat ini, izinkanku mengucap perpisahan terindah. “Aku mencintaimu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here