Karna Kebahagiaan Kamu Adalah Tanggung Jawab Pribadi, Bukan Tanggung Jawab Pasangan
Karna Kebahagiaan Kamu Adalah Tanggung Jawab Pribadi, Bukan Tanggung Jawab Pasangan

Kamu sudah tahu ‘kan kebahagiaan kamu adalah tanggung jawab pribadi, bukan tanggung jawab pasangan?

kalau belum tahu, lanjut saja bacanya, karena link saya beri di bawah nanti. sekarang saya mau share pengembangannya, tapi warning ya: tulisan ini akan SULIT DIMENGERTI dan KURANG DISUKAI..

prinsipnya adalah semakin banyak berekspektasi, semakin mudah frustrasi. itu sebabnya dalam setiap hubungan, saya selalu meminimalkan KEWAJIBAN & TANGGUNG JAWAB pasangan pada saya..

biar jelas, saya beri contoh:
– dia tidak wajib peka mengetahui isi hati & pikiran saya
– dia tidak bertanggungjawab menjadikan saya orang lebih baik
– dia tidak wajib tersedia ketika saya inginkan dan butuhkan
– dia tidak bertanggungjawab mengajari dan memotivasi saya
– dia tidak wajib melakukan sesuatu dengan cara dan gaya saya
– dia tidak bertanggungjawab mengurusi anggota keluarga saya
– dia tidak wajib mendahulukan kepentingan saya dibanding dia
– dia tidak bertanggungjawab obati kekecewaan/kecemburuan saya
– dia tidak wajib bersikap romantis agar saya merasa spesial
– dia tidak bertanggungjawab membuat saya puas atau bahagia
– dia tidak wajib mencintai sesuai dengan cara yang saya suka
– dia tidak bertanggungjawab membantu masalah dan kesalahan saya
– dia tidak wajib memenuhi semua standar, kebiasaan, tuntutan saya
– dia tidak bertanggungjawab memanjakan saya saat ultah, anniversary, dsb

tentu saya punya ekspektasi dia bersikap seperti di atas, dan saya akan senang sekali ketika dia melakukannya. tapi ekspektasi itu luar biasa kecilnya sehingga saya tidak gusar bila lalai terpenuhi..

kenapa saya bersedia ‘membuang’ beban kewajiban di atas?

kenapa saya tidak menganggap hal-hal itu HAK SAYA?

tidakkah pasangan WAJIB menyenangkan hati saya?

alasannya sederhana, saya pecah jadi dua poin:

1. karena saya BUKAN bayi yang terancam mati jika ditelantarkan.. dan saya menginginkan seorang pasangan, bukan orangtua, piaraan, tawanan, ataupun pelayan untuk merawat diri saya.

kewajiban dan tanggung jawab (baca: dedikasi) dia adalah pada HUBUNGAN, bukan pada saya. demikian juga dedikasi saya adalah pada hubungan, bukan pada dia. ini tidak saya bahas detil ya karena perlu waktu seharian penuh untuk mengupasnya.

2. agar ketika dia melakukan hal baik di atas, saya tetap sadar bahwa itu adalah PEMBERIAN MURNI DARI HATINYA.

setiap kali dia memberi hal yang menyenangkan, saya bisa tersenyum bangga, bersyukur, dan bergairah untuk mengapresiasinya. karena bukan kewajiban, saya pun tidak kecewa ataupun marah-marah apabila dia tidak rutin memberikannya..

poin nomor dua itulah yang saya mau bahas.

selain kesejahteraan saya bukan tanggung jawab pasangan, dia juga tidak punya banyak tanggung jawab lainnya pada saya. jika dia melakukan sesuatu yang memuaskan hati saya, itu adalah atas dasar kegairahan, keganjenan, kemurahan, kebaikan, dan keinginan hatinya sendiri..

walau dia adalah pasangan saya, segala usaha kebaikannya adalah bonus.. bukan sesuatu yang bisa saya tuntut dan tagih semaunya!

dengan tidak mewajibkan dia berlaku baik gono-gini, OTAK SAYA JADI TERLATIH SELALU MENGHARGAI KAPANPUN PASANGAN MELAKUKAN SESUATU. setiap usaha dia terlihat berharga. setiap kontribusi dia bersifat proaktif dan spesial.. karena saya tidak mengatur dan memaksanya demikian.

apabila butuh sesuatu, saya bisa MINTA TOLONG dan dia bebas menentukan sendiri KAPAN DAN BAGAIMANA menolong saya tanpa dibebani rasa wajib atau terpaksa..

seiring waktu, dia pun jadi makin RINGAN TANGAN berkontribusi karena saya tidak pernah menuntut ataupun take anything from her for granted..

kamu harus sadar bahwa ekspektasi wajib gono-gini membuat hubungan terasa lebih mengecewakan dan melelahkan daripada seharusnya. misalnya, salah seorang teman saya mengaku kecewa karena belakangan suaminya sudah jarang menjemputnya sepulang kantor. “Dulu dia seminggu 3 kali lah jemput saya, sekarang sekali aja udah bagus banget.. dasar ga setia!” ucap dia..

kebaikan suami dianggap sebagai kewajiban. alhasil, sang istri jadi emosi dan sedih sendiri, karena merasa kehilangan apa yang dianggap haknya..

kita sudah sibuk seharian dengan pekerjaan masing-masing, masa harus ditambah lagi dengan KEWAJIBAN MELAYANI DAN MENYENANGKAN HATI PASANGAN?

sekanak-kanak dan sejahat itukah kamu sehingga MEWAJIBKAN INI-ITU pada orang yang KAMU SAYANGI?!

katanya cinta, tapi kok kamu berlaku sedemikian TEGA?

sekali lagi saya ulang, buang jauh-jauh pemikiran bahwa pasangan WAJIB berbuat baik pada kamu. buang jauh-jauh ekspektasi bahwa kamu BERHAK selalu diperlakukan spesial seperti keinginanmu. kurang-kurangi beban tanggung jawab pasanganmu, agar dia bisa mencintaimu sepenuh hati.. bukannya karena terpaksa harus mengikuti ekspektasi (kamu).

jika kebaikan pasangan dipandang sebagai kewajiban, kamu akan SULIT MENGHARGAI ketika dia berbuat baik dan SENGIT MENGOMELI ketika dia alpa..

seiring waktu, kamu jadi frustasi dan dia pun jadi MALAS, BERUBAH, dan BERHENTI melakukan kebaikan..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here